Sebuah stasiun TV membuat program reality show yang judulnya “Jika Aku Menjadi” yang ditayangkan di Trans TV setipa hari sabtu & minggu jam 18.00, menurut saya bagus sekali sebagai bahan refleksi, meski ada beberapa adegan yang menurut saya terasa berlebihan. Di program TV penonton dibawa emosinya untuk merasakan penderitaan orang lain melalui presenter yang dipilih dari mahasiswa, atau anak muda usia sekolah, atau mereka suadh bekerja. Acara ini buat saya sangat menyentuh sekali dan benar-benar bisa menggiring perasaan penonton untuk menjadi tokoh yang dikisahkan (terbuang, terlantar, dan terlupakan). Pembelajaran seperti inilah yang “mungkin” bisa menjadi salah satu media positif untuk saling menjembatani dan membuka alam pikir kita bahwa masih banyak saudara kita yang hidup dibawah garis kemiskinan. Tapi dalam tulisan saya ini bukan point itu saja yang akan menjadi titik fokusnya.
Setiap saya melihat acara ini, ada point yang menjadi titik fokusnya yaitu semangat mereka ( keluarga di acara tersebut ) untuk menjalani hidup, walau keadaan mereka yang minim tapi meraka masih mau berusaha dengan jalan yang di ridhoi oleh Allah. Dan satu hal yang pasti acara ini selalu bikin saya bersyukur kepada Allah SWT atas semua nikmatnya. Banyangkan saja mereka ( keluarga di acara tersebut) untuk makan saja susah dengan faktor ekonomi yang serba kekurangan. Saya dan keluarga saya bersyukur masih lebih beruntung dari pada mereka. Acara itu membuat saya selalu bersyukur kepada Allah.
